Untuk berdamai dengan masalalu denganmu, aku butuh
bertahun-tahun menutup diri, melakukan ketololan-ketololan yang mencelakai diriku
sendiri. Selama beberapa tahun, aku terus melihat kau dan aku setiap kali
melewati jalan yang sama dimana pernah ada kita disana. Aku pernah dengan
bodohnya ingin melupakanmu, padahal bagaimana bisa jika kau telah hidup di
dalam aku.
Hingga, suatu hari.. Lambat laun aku merasa lebih baik, ku
tempatkan kisah kita pada tempat dimana ia seharusnya berada, aku berusaha
memberi pengertian pada diriku sendiri, bahwa kita memang seharusnya begini,
bahwa kita telah selesai. Dan aku sadar, aku tak cukup dewasa hingga aku bisa
merangkul kesedihan itu. Maka, aku telah memeluk segala luka. Bukankah memang
kedua lengan diciptakan untuk memeluk diri sendiri ?
Dan hari ini, tepatnya malam ini. Aku bahagia
Setelah sekian lama merasa terpuruk dalam patah hati, aku
kini mampu tersenyum ketika tahu kau mencintai seorang perempuan yang bukan
aku. Aku tahu ini kedengaran berpura-pura. Sebab pada kisahmu
sebelum-sebelumnya dengan beberapa perempuanmu, aku tak pernah mendoakan
kebahagiaanmu. Tapi, entah. Mala mini aku bahagia mendengar kau dan seorang
perempuan saling mencintai, entah mengapa aku bisa merasakan dari larik larik
puisinya bahwa ia begitu takut kehilanganmu, dan kurasa kau pun begitu.
Aku kini bahagia, bahwa dengannya kau akan dijaga. Bahwa
telah ada seseorang yang mencintaimu sebegitunya, dan menghidupkanmu dalam
sajak-sajaknya.
Bahwa aku bisa tenang sekarang, bahwa aku tak lagi merasa
takut kau jatuh pada pelukan yang menyimpan belati di tangannya. Bahwa kau juga
akan tenang sekarang, sebab aku tak lagi mengganggu dan mengusik kehidupanmu.
Dan kini, dengan sungguh aku mengatakan “aku turut
berbahagia pada bahagia yang kau pilih”
Kau tahu, ketika aku menuliskan ini kepalaku memutar
kenangan-kenangan yang kau dan aku pemerannya, kenangan yang tidak singkat,
yang didalamnya banyak hal-hal bodoh, lucu tapi tulus, aku tersenyum sekaligus menangis.
Tenang saja, tentangmu taka da lagi sedih yang perlu kutangisi.
Dan malam ini, aku semakin yakin bahwa aku tak lagi
mencintaimu.
-mustikasari
Dalam lirihnya malam... melihat beribu sajak tergambar dalam setiap sinar bintang... mengarungi semesta yang tak kenal waktu... tentang masa terlewatkan dan begitupula asa yang akan datang...
BalasHapusdalam teriknya panas... semilir angin berhembus menyelusuri setiap lekuk tubuh yang terbakar panasnya... tak kenal dari depan, belakang, kiri maupun kanan... kian menerpa dinginkan tubuh...
dalam sejarah, telah terukir kisah yang tak mungkin ombak menghapusnya... tetap terukir meski meski tertimbun berjuta pasir...
dalam kisah... dalam masa lalu... dalam mimpi... dalam asa...