Candu semakin menjadi-jadi, candu rinduku menolak penawar yang bukan dirinya, sepertinya aku harus menciptakan penawar rindu yang tanpa jarak.Ya, dia lelakiku sedang menunggu di tempat biasa kami bertemu, di rumah teman yang dijulukinya sebagai salah satu Datuk, yaah :D
Aku tengah dalam perjalanan tuk segera meminimalkan rindu. Aku harus menuruti apa maunya rindu, jika tidak maka ia akan meronta-ronta, dan ini akibatnya sangat fatal untukku.
Ada rintik hujan yang cukup deras di masanya. Cukup memekakan telinga. Tapi, hujan bukan alasan tuk bersembunyi dibalik pintu yang tertutup dan membatalkan pertemuan kami. Aku hampir tiba ketika pesan singkatnya bertubi-tubi masuk ke ponselku. Isinya tentang kkhawatirannya jika aku sampai terkena guyuran hujan ketika nanti aku turun dari angkutan kota yang sedang aku tumpangi. Isinya tentang permintaan sederhananya agar setibanya, aku harus segera berteduh dulu di kios pinggir jalan di tempat itu. Isinya tentang larangan bahwasanya aku tak boleh nekat berjalan menyusuri lorong demi lorong yang tergenang air tuk menuju rumah temanmu itu. Dengan senangnya aku menuruti permintaan-permintaan sederhanamu, tentu saja aku bahagia. Iya, bahagia memang kadang sesederhana itu :')
Tak lama kemudian yang ditunggu telah menampakkan batang hidungnya(yang kadang membuatku iri). Ya, dia adalah lelakiku. Lelakiku tak sendiri, ia bersama jas hujan yang ia kenakan. Segera jas hujan itu ditanggalkan dari tubuhnya lalu disodorkan padaku. Awalnya aku menolak karena aku sangat risih mengenakan jas hujan. Tapi, lelakiku tak mau tahu. Aku diharuskan memakai jas itu, dan dia rela kehujanan :(
Aku dan lelakiku mulai memijakkan kaki pada tanah yang basahnya parah. Menyusuri lorong demi lorong bagai mencari sisa pijakan kaki detik-detik bertemunya Adam dan Hawa di bumi. Lalu mengabadikannya. Sayang, telah luruh oleh guyuran hujan dan hanyut di muara sungai
Begitu sampai, kami saling mempertemukan rindu dengan cara-cara yang tidak dimengerti, yang sepertinya ditolak oleh manusia-manusia dengan adat nenek moyang yang melekat, yang dianggap tabu oleh para individu jadul. Kami saling mengasihi, meskipun menentang aturan Tuhan yang tertera dalam kitab-kitab yang ia turunkan.
Entah makhluk bumi bagian mana yang telah mengundang hujan ini, yang telah memohon hujan ini pada Tuhan, hujan semakin deras, tak sendirian ia beserta petir-petirnya yang merupakan salah satu phobiaku. Lelakiku tak tinggal diam, melihatku tak biasa dan tersiksa dengan getaran-getaran petir segera aku dijatuhkan dalam dekapan eratnya. Menutup telingaku dengan tangannya agar aku tak perlu mendengar suara-suara kacau itu. Ia menutup telingaku dengan telapak tangannya seakan memintaku cukup mendengar desis aliran darah di nadinya saja melalui tangan yang menempel itu.
Tak lamapun aku terlelap di pangkuannya dengan telapak tangannya yang masih menempel di telingaku...
Aku mencintaimu, lelakiku
Aku tengah dalam perjalanan tuk segera meminimalkan rindu. Aku harus menuruti apa maunya rindu, jika tidak maka ia akan meronta-ronta, dan ini akibatnya sangat fatal untukku.
Ada rintik hujan yang cukup deras di masanya. Cukup memekakan telinga. Tapi, hujan bukan alasan tuk bersembunyi dibalik pintu yang tertutup dan membatalkan pertemuan kami. Aku hampir tiba ketika pesan singkatnya bertubi-tubi masuk ke ponselku. Isinya tentang kkhawatirannya jika aku sampai terkena guyuran hujan ketika nanti aku turun dari angkutan kota yang sedang aku tumpangi. Isinya tentang permintaan sederhananya agar setibanya, aku harus segera berteduh dulu di kios pinggir jalan di tempat itu. Isinya tentang larangan bahwasanya aku tak boleh nekat berjalan menyusuri lorong demi lorong yang tergenang air tuk menuju rumah temanmu itu. Dengan senangnya aku menuruti permintaan-permintaan sederhanamu, tentu saja aku bahagia. Iya, bahagia memang kadang sesederhana itu :')
Tak lama kemudian yang ditunggu telah menampakkan batang hidungnya(yang kadang membuatku iri). Ya, dia adalah lelakiku. Lelakiku tak sendiri, ia bersama jas hujan yang ia kenakan. Segera jas hujan itu ditanggalkan dari tubuhnya lalu disodorkan padaku. Awalnya aku menolak karena aku sangat risih mengenakan jas hujan. Tapi, lelakiku tak mau tahu. Aku diharuskan memakai jas itu, dan dia rela kehujanan :(
Aku dan lelakiku mulai memijakkan kaki pada tanah yang basahnya parah. Menyusuri lorong demi lorong bagai mencari sisa pijakan kaki detik-detik bertemunya Adam dan Hawa di bumi. Lalu mengabadikannya. Sayang, telah luruh oleh guyuran hujan dan hanyut di muara sungai
Begitu sampai, kami saling mempertemukan rindu dengan cara-cara yang tidak dimengerti, yang sepertinya ditolak oleh manusia-manusia dengan adat nenek moyang yang melekat, yang dianggap tabu oleh para individu jadul. Kami saling mengasihi, meskipun menentang aturan Tuhan yang tertera dalam kitab-kitab yang ia turunkan.
Entah makhluk bumi bagian mana yang telah mengundang hujan ini, yang telah memohon hujan ini pada Tuhan, hujan semakin deras, tak sendirian ia beserta petir-petirnya yang merupakan salah satu phobiaku. Lelakiku tak tinggal diam, melihatku tak biasa dan tersiksa dengan getaran-getaran petir segera aku dijatuhkan dalam dekapan eratnya. Menutup telingaku dengan tangannya agar aku tak perlu mendengar suara-suara kacau itu. Ia menutup telingaku dengan telapak tangannya seakan memintaku cukup mendengar desis aliran darah di nadinya saja melalui tangan yang menempel itu.
Tak lamapun aku terlelap di pangkuannya dengan telapak tangannya yang masih menempel di telingaku...
Aku mencintaimu, lelakiku
Hehehehehe laki-laki jas hujan.... :-)
BalasHapusHahahahaha kayak pernah deh saya alami seperti itu.
BalasHapus