Dusta betul bila aku mengatakan aku biasa saja setelah kau tidak lagi disini. Nyatanya aku tak bisa. Dalam keadaan remuk seperti ini, telingaku penuh oleh orang-orang yang semarak menceritakan pasca hubungan kalian yang belum lama terjalin. Bisakah mereka sekedar berbisik saja ? Agar aku tak perlu mendengarnya dan melemparku ke dalam kesilaman yang kita punya.
Hati dan pikiran yang kacau, ditambah lagi dengan hiruk pikuk berita bahwa Ayahku yang notabene seorang militer akan dipindahtugaskan ke kota yang tak cukup jauh dari tempat itu. Tapi, orangtua memutuskan bahwa aku harus lanjut belajar di kampung halamanku yang sangaaat jauh dari kenangan kita tentunya. Dengan alasan, bahwa setelah nanti Ayahku pindahtugas, dalam waktu yang tidak lama ia akan pindahtugas lagi ke kota yang lebih kota. Sungguh, hatiku tak sedewasa itu bisa berdamai dengan kenyataan. Aku masih terlalu dini untuk tidak protes terhadap waktu, tapi siapakah yang akan menghiraukan protes seorang dini ?
Secepat itukah ?
Haruskah aku meninggalkan jejak-jejak kita ditempat ini ?
Bagaimana dengan sisa-sisa tawa riuh kita di sudut sekolahku ?
Tak bisakah aku mengantonginya saja ?
dan itulah bodohnya aku, masih saja memperjuangkan kita disaat kita bukan lagi sesiapa
aku masih saja menitikberatkan beberapa masa yang kita pernah ada di dalamnya.
Sebelum aku benar-benar meninggalkan tanah itu, aku ingin berpamitan dengan mereka yang ku sebut sahabat dan kau yang kusebut Tuan Beralis Tebal. Maka abangku siap mengantarku ke beberapa rumah untuk berpamitan, dijalan ketika aku ingin mencarimu, yang dicari ada tanpa dicari, kau sedang mengendarai motor dan tak sendiri, di belakangmu ada seorang gadis yang dari cerita orang ku ketahui bahwa itu adalah alasan kau memutuskanku. Sepertinya kau hendak mengantarnya pulang. Gadis itu di belakangmu, dan mungkin saja kau mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan ketika pertama kali kau memboncengiku dengan motormu "Pegangan, nanti jatuh".
Kau berlalu, tanpa melihat ke arahku, dan aku memang berharap kau tak perlu melihatku. Tak perlu airmata yang jatuh harus terlihat olehmu. Sekali lagi tawa riuh kalian sangat menyakiti ku. Aku hanya ingin pertemuan yang bisa jadi terakhir kalinya ini terkesan sedikit baik-baik saja yang hanya ada suaraku yang mungkin akan sedikit terisak dan suaramu yang pasti dan pasti baik baik saja. Tapi untuk sebuah perpisahan pun aku harus melihat kau dengan dia yang bukan aku. Tak apa, mungkin ini akan jadi cambuk untuk melupakanmu.
Ayah dan Ibuku pindah ke kota,dan aku terpaksa melanjutkan sekolah yang nanggung di kampung halaman yang belum ku cintai.
Disini aku tidak akan bercerita soal interaksi dengan sekeliling, bagaimana aku berkawan, suka dukanya jadi anak baru tapi tentang perasaan yang masih kepada orang yang sama.
Sejauh ini aku pergi, menghadirkan jarak yang juga tak ku inginkan, dan aku masih tak bisa melupakanmu. Sosok dirimu terlalu menggerogoti alam bawah sadarku, terbuktilah bahwa jarak tidak punya andil dalam menghapus cinta, dan kalaupun punya maka ku pastikan cintaku lebih kuat dan terlalu pembangkang dari apapun.
Tiada hari yang terlewatkan tanpa rindu, sebenarnya aku ingin mengutus rindu ke rumahmu, tapi aku takut rindu kecewa lantaran sewaktu waktu bisa saja kau membawa gadis itu ke rumahmu untuk kau kenalkan pada ibumu dan rindupun tak terlihat.
Ah, sudahlah. Tak perlu ku puisikan setiap airmata yang jatuh karena rasa sakit hati dan rindu.
Hati dan pikiran yang kacau, ditambah lagi dengan hiruk pikuk berita bahwa Ayahku yang notabene seorang militer akan dipindahtugaskan ke kota yang tak cukup jauh dari tempat itu. Tapi, orangtua memutuskan bahwa aku harus lanjut belajar di kampung halamanku yang sangaaat jauh dari kenangan kita tentunya. Dengan alasan, bahwa setelah nanti Ayahku pindahtugas, dalam waktu yang tidak lama ia akan pindahtugas lagi ke kota yang lebih kota. Sungguh, hatiku tak sedewasa itu bisa berdamai dengan kenyataan. Aku masih terlalu dini untuk tidak protes terhadap waktu, tapi siapakah yang akan menghiraukan protes seorang dini ?
Secepat itukah ?
Haruskah aku meninggalkan jejak-jejak kita ditempat ini ?
Bagaimana dengan sisa-sisa tawa riuh kita di sudut sekolahku ?
Tak bisakah aku mengantonginya saja ?
dan itulah bodohnya aku, masih saja memperjuangkan kita disaat kita bukan lagi sesiapa
aku masih saja menitikberatkan beberapa masa yang kita pernah ada di dalamnya.
Sebelum aku benar-benar meninggalkan tanah itu, aku ingin berpamitan dengan mereka yang ku sebut sahabat dan kau yang kusebut Tuan Beralis Tebal. Maka abangku siap mengantarku ke beberapa rumah untuk berpamitan, dijalan ketika aku ingin mencarimu, yang dicari ada tanpa dicari, kau sedang mengendarai motor dan tak sendiri, di belakangmu ada seorang gadis yang dari cerita orang ku ketahui bahwa itu adalah alasan kau memutuskanku. Sepertinya kau hendak mengantarnya pulang. Gadis itu di belakangmu, dan mungkin saja kau mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan ketika pertama kali kau memboncengiku dengan motormu "Pegangan, nanti jatuh".
Kau berlalu, tanpa melihat ke arahku, dan aku memang berharap kau tak perlu melihatku. Tak perlu airmata yang jatuh harus terlihat olehmu. Sekali lagi tawa riuh kalian sangat menyakiti ku. Aku hanya ingin pertemuan yang bisa jadi terakhir kalinya ini terkesan sedikit baik-baik saja yang hanya ada suaraku yang mungkin akan sedikit terisak dan suaramu yang pasti dan pasti baik baik saja. Tapi untuk sebuah perpisahan pun aku harus melihat kau dengan dia yang bukan aku. Tak apa, mungkin ini akan jadi cambuk untuk melupakanmu.
Ayah dan Ibuku pindah ke kota,dan aku terpaksa melanjutkan sekolah yang nanggung di kampung halaman yang belum ku cintai.
Disini aku tidak akan bercerita soal interaksi dengan sekeliling, bagaimana aku berkawan, suka dukanya jadi anak baru tapi tentang perasaan yang masih kepada orang yang sama.
Sejauh ini aku pergi, menghadirkan jarak yang juga tak ku inginkan, dan aku masih tak bisa melupakanmu. Sosok dirimu terlalu menggerogoti alam bawah sadarku, terbuktilah bahwa jarak tidak punya andil dalam menghapus cinta, dan kalaupun punya maka ku pastikan cintaku lebih kuat dan terlalu pembangkang dari apapun.
Tiada hari yang terlewatkan tanpa rindu, sebenarnya aku ingin mengutus rindu ke rumahmu, tapi aku takut rindu kecewa lantaran sewaktu waktu bisa saja kau membawa gadis itu ke rumahmu untuk kau kenalkan pada ibumu dan rindupun tak terlihat.
Ah, sudahlah. Tak perlu ku puisikan setiap airmata yang jatuh karena rasa sakit hati dan rindu.
perempuan yang jauh darimu
perempuan yang membahasakan rindu
dengan airmatanya
Komentar
Posting Komentar