Sore itu aku tengah tertidur di kamar ketika hujan yang tidak bisa dikatakan tidak deras memekakan telinga. Dari jendela kamarku aku bisa merasakan hawa sejuk dan rintikannya yang sesekali jatuh di kulitku oleh hembusan angin.
Tiba-tiba saja senyum hambar terulas di bibirku, tanpa kupaksa memori silam terbentang luas dan memintaku mengingat kemudian menceritakannya dengan bahasa rasa. Hujan tak sesederhana air jatuh dari cakrawala langit. Cerita dibalik hujan tak sebiasa itu.
Bersama hujan pernah ada rasa. Rasa tak terlahir sendiri, bersama itupula ada secercah harapan silam.
Kau dan aku pernah menggila di tengah hujan deras, kau dan aku pernah tertahan oleh hujan beberapa menit dan setelahnya bermasa bodoh jika harus basah, kau dan aku pernah merelakan payung untuk oranglain dan memilih basah oleh hujan, kau dan aku pernah diatas kendaraan mesin roda dua untuk mengantarku pulang dan merelakan jaket tebalmu untukku meskipun aku tetap basah oleh hujan namun aku menghargainya, dan demi tidak membatasi karya kukatakan kita pernah mempertemukan dan menyatukan rasa ketika hujan diluar sedang beradu dengan alam sehingga nada nada hujan yang ribut mengalihkan suara kita dari semesta yang siap mencaci jika mendengarnya.
Kita tak pernah pedulikan hujan demi mengekspesikan rasa.
Kau dan aku abadi oleh kenangan yang dibalut oleh hujan
Kita adalah penikmat hujan
Kita tak pernah pedulikan hujan demi mengekspesikan rasa.
Kau dan aku abadi oleh kenangan yang dibalut oleh hujan
Kita adalah penikmat hujan
Ini adalah rasa tentang hujan yang kuceritakan kepada hujan dengan bahasa rasa
Komentar
Posting Komentar