Selamat malam Tuan Beralis Tebal
Mohon maaf jika sampai selarut ini aku masih tak mampu menenangkan pikiranku dari gejolakmu, toh Tuan juga tak akan peduli, tentunya.
Biarkan aku sedikit banyaknya bercerita..
Tahukah kamu, satu kata yang sampai saat ini tak berhenti melekat di dinding hatiku, ialah : RINDU.
Iya, aku merindukanmu Tuan. Sungguh sangat merindu, teramat merindu, lebih dari makna rindu yang kamu baca, lebih dari yang kamu tahu.
Rinduku teramat istimewa, rinduku tak kunjung melambaikan tangan meski kita dalam keadaan tanpa jarak. Aku merindukan dirimu yang dulu, yang tak sekaku belakangan ini. Tolonglah sedikit mengerti, berhentilah menyalahkanku atas kerinduan yang tak masuk akal, katamu. Kamu yang dulu dan yang sekarang, apa bedanya-pikirmu. Bila kamu mencoba tuk sedikit peka, mengabaikan apa kata logika, tentu kamu akan paham atas kerinduan ini.
Aku tak menyalahkan sibuk dan rutinitas yang setiap saat meneriaki dan menghantam pundakmu, hanya saja setidaknya kamu harus tahu cara memperlakukan perempuan ini dengan sedikit lebih baik. Aku tak tahu, sikapmu ini sebagai wujud benar-benar sibuk, ataukah memang sudah senang mengabaikan tentang kita. Ketidakpedulianmu, diammu dan rasa tak ingin tahumu kurasa sudah sangat keterlaluan.
Tahukah kamu, acap kali aku merasa lelah menjadi perempuan sebaik ini, setegar ini, berusaha meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja. Dan disaat seperti itu seringkali aku ingin mencoba membalas, berbalik tak peduli tentangmu, mengabaikanmu, apa kamu pikir aku bisa ? AKU TAK PERNAH BISA, AKU SELALU GAGAL. Aku terlanjur menjadikanmu arah fokusku.
Dan akhirnya, aku terus saja berada di dekatmu tanpa melindungi diriku dari luka-luka yang aku tahu kapan saja bisa membuatku cedera.
Tuan, aku sering menangis diam-diam dengan mengedapkan isakan ketika Tuhan harus melemparku pada momen-momen silam kita, ketika segalanya masih terasa manis, ketika mereka iri dengan kisah yang kita punya. Aku tak menyangka kita masih bertahan sejauh ini, meski rasa dan bahagianya tak lagi sama Tuan. Sepi, krikk
Aku ingat betul bagaimana kekhawatiranmu dulu saat mataku masih tak bisa terpejam pada pukul tengah malam, dan selalu ada Tuan yang menemani seakan meninabobokan. Begadang jadi tak semenyeramkan kata orang. Atau jikalau Tuan memang sangat lelah dan tertidur di waktu yang lebih awal, besoknya ketika Tuan terbangun maka kata maaf acap kali kamu ucap karena merasa bersalah tlah membiarkanku melewati malam dengan mata yang tak terpejam seorang diri.
Sapaan-sapaan kecilmu di pagi hari tak pernah terlewatkan, kamu selalu menyapaku via chat. Dan saat hendak berlayar ke alam mimpi pun kamu selalu mengucapkan "selamat bobo" dan rangkaian kata indah mengekor dibelakangnya.
Bagaimana dengan sekarang ?
Tidak ada, tidak pernah--eh sesekali, sangat jarang, itupun aku yang harus memberi kode
Itu dulu, saat Tuan Beralis Tebal masih benar-benar menjadi milikku tanpa harus membagi dirinya dengan rutinitas yang ia pikul. Ketahuilah, aku tak pernah menyalahkan posisimu saat ini, tapi setidaknya Tuan tahu cara memperlakukan perempuan ini dengan sedikit lebih manis.
Lagi-lagi, aku masih tetap memiliki rasa yang sama kepada Tuan Beralis Tebal yang dulu, maupun yang sekarang.
Mohon maaf jika sampai selarut ini aku masih tak mampu menenangkan pikiranku dari gejolakmu, toh Tuan juga tak akan peduli, tentunya.
Biarkan aku sedikit banyaknya bercerita..
Tahukah kamu, satu kata yang sampai saat ini tak berhenti melekat di dinding hatiku, ialah : RINDU.
Iya, aku merindukanmu Tuan. Sungguh sangat merindu, teramat merindu, lebih dari makna rindu yang kamu baca, lebih dari yang kamu tahu.
Rinduku teramat istimewa, rinduku tak kunjung melambaikan tangan meski kita dalam keadaan tanpa jarak. Aku merindukan dirimu yang dulu, yang tak sekaku belakangan ini. Tolonglah sedikit mengerti, berhentilah menyalahkanku atas kerinduan yang tak masuk akal, katamu. Kamu yang dulu dan yang sekarang, apa bedanya-pikirmu. Bila kamu mencoba tuk sedikit peka, mengabaikan apa kata logika, tentu kamu akan paham atas kerinduan ini.
Aku tak menyalahkan sibuk dan rutinitas yang setiap saat meneriaki dan menghantam pundakmu, hanya saja setidaknya kamu harus tahu cara memperlakukan perempuan ini dengan sedikit lebih baik. Aku tak tahu, sikapmu ini sebagai wujud benar-benar sibuk, ataukah memang sudah senang mengabaikan tentang kita. Ketidakpedulianmu, diammu dan rasa tak ingin tahumu kurasa sudah sangat keterlaluan.
Tahukah kamu, acap kali aku merasa lelah menjadi perempuan sebaik ini, setegar ini, berusaha meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja. Dan disaat seperti itu seringkali aku ingin mencoba membalas, berbalik tak peduli tentangmu, mengabaikanmu, apa kamu pikir aku bisa ? AKU TAK PERNAH BISA, AKU SELALU GAGAL. Aku terlanjur menjadikanmu arah fokusku.
Dan akhirnya, aku terus saja berada di dekatmu tanpa melindungi diriku dari luka-luka yang aku tahu kapan saja bisa membuatku cedera.
Tuan, aku sering menangis diam-diam dengan mengedapkan isakan ketika Tuhan harus melemparku pada momen-momen silam kita, ketika segalanya masih terasa manis, ketika mereka iri dengan kisah yang kita punya. Aku tak menyangka kita masih bertahan sejauh ini, meski rasa dan bahagianya tak lagi sama Tuan. Sepi, krikk
Aku ingat betul bagaimana kekhawatiranmu dulu saat mataku masih tak bisa terpejam pada pukul tengah malam, dan selalu ada Tuan yang menemani seakan meninabobokan. Begadang jadi tak semenyeramkan kata orang. Atau jikalau Tuan memang sangat lelah dan tertidur di waktu yang lebih awal, besoknya ketika Tuan terbangun maka kata maaf acap kali kamu ucap karena merasa bersalah tlah membiarkanku melewati malam dengan mata yang tak terpejam seorang diri.
Sapaan-sapaan kecilmu di pagi hari tak pernah terlewatkan, kamu selalu menyapaku via chat. Dan saat hendak berlayar ke alam mimpi pun kamu selalu mengucapkan "selamat bobo" dan rangkaian kata indah mengekor dibelakangnya.
Bagaimana dengan sekarang ?
Tidak ada, tidak pernah--eh sesekali, sangat jarang, itupun aku yang harus memberi kode
Itu dulu, saat Tuan Beralis Tebal masih benar-benar menjadi milikku tanpa harus membagi dirinya dengan rutinitas yang ia pikul. Ketahuilah, aku tak pernah menyalahkan posisimu saat ini, tapi setidaknya Tuan tahu cara memperlakukan perempuan ini dengan sedikit lebih manis.
Lagi-lagi, aku masih tetap memiliki rasa yang sama kepada Tuan Beralis Tebal yang dulu, maupun yang sekarang.
perempuan
yang sulit tidur
karena bayangmu
Hahahahaha seberapa tebalnya memang alisnya itu orang ?
BalasHapusAlisnya kaya shinchan :D
BalasHapus