Selamat malam Tuan Beralis Tebal :’)
Apa kabar, Tuan ? Ingin rasanya ku lontarkan pertanyaan itu
dengan tanpa malu. Hanya saja ku gagalkan mengingat sekat yang telah kau buat antara kita. Maka, aku cukupkan rinduku dengan menyapamu melalui tulisanku.
Meskipun pada kenyataannya rinduku padamu tak pernah cukup sekalipun dalam keadaan tak berjarak.
Seandainya ku tahu, pelukanmu pagi itu adalah terhitung
terakhir kalinya sampai jangka waktu yang entah kapan maka aku akan balas
memelukmu lebih intim menahan kau pergi. Seandainya ku tahu, “Baik-baik dan
jaga dirimu” yang kau ucapkan pagi itu adalah sebuah salam perpisahan yang
telah kau rencanakan maka aku akan secerewet mungkin mengajakmu bercerita
hingga kau lupa untuk pergi. Tapi kenyataannya, peluk dan ucapmu kutanggapi tanpa apa-apa yang nampak namun berdesir dalam
hatiku. Sebelum kau menutup pintu kita sempat bertatapan, dan entah mengapa aku dapat merasakan sesuatu yang lirih dari tatapmu.
Dan tak beberapa lama, aku hendak mengabarimu via BBM. Aku
tak menemukan history chat dengan namamu, aku mulai khawatir. Tapi pikiranku
berusaha mempengaruhi hati bahwa mungkin saja kau mengganti nama BBM atau
apalah, setelah ku cari secara detail hasilnya nihil. Kau tak ada.
Iya, setelah momen haru yang kau rencanakan pagi itu, kau
menghilang yang benar-benar hilang. Jangan bilang bahwa aku tak berusaha
mencarimu, tak berhenti disitu aku terus menerus mengirimimu sms yang tak
pernah kau balas. Aku menelponmu dan kau tak pernah sudi mengangkatnya. Kau juga menghapus pertemanan antara kita di semua sosial media.
Apa kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat itu ?
Sungguh menyakitkan mengingat seseorang yang mendewai hatimu tiba-tiba
menghilang begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa. Kepergianmu meninggalkan
sebuah tanda tanya besar bagiku.
Aku bisa saja mendatangimu, kurasa cukup mudah menemukan
keberadaanmu. Hanya saja, aku kembali berpikir dan merenungi : kau tiba-tiba
hilang, aku telah mencarimu untuk sebuah penjelasan namun kau tetap saja
mengabaikanku. Dan aku mengambil kesimpulan bahwa ini semua adalah apa yang kau
mau. Jika benar begitu, maka aku sebagai yang menginginkanmu namun tak diingini
bisa apa ?
Sampai waktunya kau memberi penjelasan atas sebuah tanya yang
kau tanggalkan, aku akan tetap pada pikiran-pikiranku sendiri mengenai pergimu
hingga kau sendiri yang datang padaku memberi kejelasan.
Terima kasih Tuan Beralis Tebal atas patah hati paling patah
ini :’)
perempuan
yang sepertinya
hendak kau lupakan
Komentar
Posting Komentar